Teknik Penulisan Soal Penalaran Tingkat Tinggi (HOTS)
Cara Menulis Soal Higher Order Thinking Skill atau HOTS
GuruSindo.Com - Dalam hal menulis soal, seorang pembuat soal bukan hanya membuat satu jenis soal saja. Terkadang seorang pembuat soal, akan membuat beberapa jenis soal yang berbeda. Baik itu soal bentuk pilihan ganda, soal bentuk uraian, soal dengan jawaban singkat ataupun sejenisnya. Apapun bentuk soalnya, didalamnya ada beberapa soal yang dibuat membutuhkan kemampuan penalaran tingkat tinggi seperti yang akan kita bahas pada artikel kali ini.Soal yang membutuhkan penalaran lebih lanjut, merupakan jenis soal yang sering dikembangkan dimasa sekarang ini. Hal tersebut dikarenakan mudah dalam penulisan soalnya dan materi yang hendak ditanyakan juga mudah diperoleh secara langsung dari buku pelajaran. Soal-soal yang mengukur ingatan kurang memberi dorongan kepada peserta didik untuk belajar lebih giat dalam mempersiapkan dirinya menjadi anggota masyarakat yang kreatif di masa depan.

Pengertian Soal Penalaran Tingkat Tinggi (Higher Order Thinking Skill atau HOTS)
Peserta didik dimasa sekarang perlu diberi soal-soal yang menuntut proses berpikir tingkat tinggi atau yang kini lebih dikenal dengan jenis soal HOTS (higher order thinking skill). Dalam menyusun soal yang mengukur proses berpikir tingkat tinggi disajikan berbagai informasi, biasanya dalam stimulus.
Soal HOTS (higher order thinking skill) adalah soal dengan berpikir tingkat tinggi dimana seorang peserta didik menunjukkan pemahaman akan informasi dan bernalar, bukan sekedar mengingat kembali (recall), menyatakan kembali (restate), atau merujuk tanpa melakukan pengolahan (recite).
Adakalanya perlu memberi informasi yang dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan tersebut dan peserta didik menunjukkan pemahaman terhadap ide dan informasi serta memanipulasi atau menggunakan informasi.
Stimulus pada soal HOTS dapat berupa teks, gambar, grafik, tabel, dan lain sebagainya yang berisi informasi-informasi dari kehidupan nyata. Berdasarkan informasi-informasi tersebut, peserta didik diminta untuk:
- Mentransfer informasi tersebut dari satu konteks ke konteks lainnya
- Memproses dan menerapkan informasi
- Melihat keterkaitan antara informasi yang berbeda-beda
- Menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah
- Secara kritis mengkaji/menelaah ide atau gagasan dan informasi
Penilaian yang fokus pada higher order thinking meliputi:
- Pertanyaan dan jawaban;
- Eksplorasi dan analisis;
- Bernalar ketika memperoleh informasi, bukan mengingatnya kembali;
- Memecahkan, menilai, mengkritik dan menerjemahkan.
- Proses kognitif yang termasuk higher order thinking, antara lain analisis, sintesis, dan evaluasi.
- Pada standar level kemampuan, higher order thinking terdapat pada level 3 (reasoning).
Selain itu, uraian materi yang akan ditanyakan (yang menuntut penalaran) tidak selalu tersedia di dalam buku pelajaran. Oleh karena itu, dalam penulisan soal jenis ini, dibutuhkan penguasaan materi dan kreativitas dalam penulisan soal. Karena soal ditulis mengacu pada indikator yang terdapat dalam kisi-kisi, rumusan indikator juga sudah mengarah ke soal yang menuntut penalaran
Standar Level Kemampuan
Jenis soal penalaran tingkat tinggi ini memiliki 3 tingkatan atau standar level kemampuan yaitu:
Level 1: Peserta pada level ini memiliki kemampuan standar minimum dalam menguasai pelajaran (Knowing)
- Memperlihatkan ingatan dan pemahaman dasar terhadap materi pelajaran dan dapat membuat generalisasi yang sederhana.
- Memperlihatkan tingkatan dasar dalam pemecahan masalah dalam pembelajaran, paling tidak dengan satu cara.
- Memperlihatkan pemahaman dasar terhadap grafik-grafik, label-label, dan materi visual lainnya.
- Dapat mengkomunikasikan fakta-fakta dasar dengan menggunakan terminologi yang sederhana.
Level 2: Peserta didik pada level ini memiliki kemampuan aplikatif (Applying)
- Memperlihatkan pengetahuan dan pemahaman terhadap materi pelajaran dan dapat mengaplikasikan gagasan-gagasan dan konsep-konsep dalam konteks tertentu.
- Dapat menginterpretasi dan menganalisis informasi dan data.
- Dapat memecahkan masalah-masalah rutin dalam pelajaran.
- Dapat menginterpretasi grafik-grafik, tabel-tabel, dan materi visual lainnya.
- Dapat mengkomunikasikan dengan jelas dan terorganisir penggunaan terminologi.
Level 3: Peserta didik pada level ini memiliki kemampuan penalaran dan logika (Reasoning).
- Memperlihatkan pengetahuan dan pemahaman yang luas terhadap materi pelajaran dan dapat menerapkan gagasan-gagasan dan konsep-konsep dalam situasi yang familiar, maupun dengan cara yang berbeda.
- Dapat menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi gagasan-gagasan dan informasi yang faktual.
- Dapat menjelaskan hubungan konseptual dan informasi yang faktual
- Dapat menginterpretasi dan menjelaskan gagasan-gagasan yang kompleks dalam pelajaran.
- Dapat mengekspresikan gagasan-gagasan nyata dan akurat dengan menggunakan terminologi yang benar.
- Dapat memecahkan masalah dengan berbagai cara dan melibatkan banyak variabel.
- Dapat mendemonstrasikan pemikiran-pemikiran yang original.
Karakteristik Soal HOTS (higher order thinking skill)
Dalam penerapannya, pertanyaan yang sifatnya penalaran tingkat tinggi itu tidak selalu harus lebih sulit. Misalnya soal menentukan arti dari kata yang sangat jarang digunakan belum termasuk HOT. Soal sulit bukan berarti higher order thinking, kecuali melibatkan nalar untuk mencari arti kata dari suatu konteks atau stimulus. Pada prinsipnya higher order thinking adalah cara berpikir logis atau proses penalaran.
1. Mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi
Kemampuan berpikir tingkat tinggi termasuk kemampuan untuk memecahkan masalah (problem solving), keterampilan berpikir kritis (critical thinking), berpikir kreatif (creative thinking), kemampuan berargumen (reasoning), dan kemampuan mengambil keputusan (decision making).Kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan salah satu kompetensi penting dalam dunia modern, sehingga wajib dimiliki oleh setiap peserta didik.
2. Berbasis permasalahan kontekstual
Soal-soal HOTS merupakan asesmen yang berbasis situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari, dimana peserta didik diharapkan dapat menerapkan konsep-konsep pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan masalah.
Berikut ini diuraikan lima karakteristik asesmen kontekstual, yang disingkat REACT.
- Relating, asesmen terkait langsung dengan konteks pengalaman kehidupan nyata.
- Experiencing, asesmen yang ditekankan kepada penggalian (exploration), penemuan (discovery), dan penciptaan (creation).
- Applying, asesmen yang menuntut kemampuan peserta didik untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh di dalam kelas untuk menyelesaikan masalah-masalah nyata.
- Communicating, asesmen yang menuntut kemampuan peserta didik untuk mampu mengomunikasikan kesimpulan model pada kesimpulan konteks masalah.
- Transfering, asesmen yang menuntut kemampuan peserta didik untuk mentransformasi konsep-konsep pengetahuan dalam kelas ke dalam situasi atau konteks baru.
3. Menggunakan bentuk soal beragam
Penulisan soal HOTS dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa alternatif bentuk soal seperti, soal pilihan ganda, soal dengan jawaban singkat, ataupun dengan soal bentuk uraian. Ketiga bentuk penulisan soal tersebut dapat digunakan sebagai alternatif dalam mengukur penaaran tingkat tinggi peserta didik.
Langkah-Langkah Penyusunan Soal HOTS
Dalam penulisan soal higher order thinking skill (HOTS), seorang penulis harus menetukan terlebih dahulu perilaku yang akan diukur, kemudian menentukan materi yang akan dijadikan pedoman pembuatan soal yang akan mengukur perilaku yang ingin dicapai. Sesuai dengan namanya HOTS maka siswa dituntut memiliki penaaran tingkat tinggi, olehnya itu seorang penulis soal tidak hanya mengambil materi yang tersedia dalam 1 buku pelajaran saja, namun sebaiknya mengumpulkan materi pada buku pelajaran yang lainnya agar soal dapat lebih bervariasi.Berkaitan dengan hal tersebut, seorang penulis soal HOTS dituntut agar memiliki penguasaan materi, terampil dalam menulis soal dan memiliki kreativitas dalam memilih stimulus soal yang sesuai dengan kondisi daerah sekitar atau lingkungan peserta didik.
Untuk lebih jelasnya, perlu diketahui beberapa langkah dalam penyusunan soal-soal HOTS (higher order thinking skill). Langkah-Langkah Penyusunan Soal HOTS sedikitnya terdiri dari 5 bagian sebagai berikut:
1. Menganalisis KD yang dapat dibuat soal-soal HOTS
Seorang penulis soal terlebih dahulu harus menguasai Kompetensi Dasar (KD) yang ingin dicapai. Dalam hal ini, penulis soal memilih KD yang dapat dibuatkan soal-soal HOTS karena tidak semua KD dapat dibuatkan soal dengan model HOTS.2. Menyusun kisi-kisi soal
Kisi-Kisi soal merupakan bagian terpenting dalam penulisan soal, karena sebuah soal lahir dari kisi-kisi soal. Kisi-kisi penulisan soal-soal HOTS bertujuan untuk membantu para guru dalam menulis butir soal HOTS. Kisi-kisi tersebut diperlukan untuk memandu penulis dalam:- Memilih KD yang dapat dibuat soal-soal HOTS,
- Memilih materi pokok yang terkait dengan KD yang akan diuji,
- Merumuskan indikator soal,
- Menentukan level kognitif.
3. Memilih stimulus yang menarik dan kontekstual
Stimulus yang digunakan hendaknya menarik, artinya mendorong peserta didik untuk membaca stimulus. Stimulus yang menarik umumnya baru, belum pernah dibaca oleh peserta didik. Sedangkan stimulus kontekstual berarti stimulus yang sesuai dengan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, menarik, mendorong peserta didik untuk membaca.Dalam konteks Ujian Sekolah, guru dapat memilih stimulus dari lingkungan sekolah atau daerah setempat.4. Menulis butir pertanyaan sesuai dengan kisi-kisi soal
Butir pertanyaan atau butir soal ditulis berdasarkan pada kisi-kisi soal yang telah dibuat sesuai dengan kaidah penulisan butir soal HOTS. Kaidah penulisan butir soal HOTS, agak berbeda dengan kaidah penulisan butir soal pada umumnya. Perbedaannya terletak pada aspek materi, sedangkan pada aspek konstruksi dan bahasa relatif sama. Setiap butir soal ditulis pada kartu soal, sesuai format terlampir.5. Membuat pedoman penskoran (rubrik) atau kunci jawaban
Membuat pedoman penskoran dan kunci jawaban merupakan hal yang tidak boleh dilupakan dalam rangkaian penulisan butir soal HOTS. Pedoman penskoran dibuat untuk memudahkan pemeriksa soal dalam menentukan skor yang diperoleh peserta didk. Pedoman penskoran bentuk dibuat untuk bentuk soal uraian. Sedangkan kunci jawaban dibuat untuk bentuk soal pilihan ganda, pilihan ganda kompleks (benar/salah, ya/tidak), dan isian singkat.****
Posting Komentar untuk "Teknik Penulisan Soal Penalaran Tingkat Tinggi (HOTS)"